MATA PELAJARAN FIKIH MUAMALAH

 

FIQH MUAMALAH : HAWALAH (Pemindahan utang piutang)

19.07 |

PENDAHULUAN

Bila menganalisis berbagai perintah agama islam dengan seksama, maka dengan mudah kita dapat memperoleh prinsip yang berkaitan dengan piutang konsumtif. Adapun prinsip piutang konsumtif adalah Prinsip kemurnian, perjanjian, pembayaran dan bantuan yang timbul dari kenyataan bahwa mengambil suatu kredit tanpa suatu sebab yang shahih, ditolak oleh Rasulullah yang diriwayatkan berlindung dari utang maupun dosa. Aisyah berkata rasulullah SAW biasa berdoa dengan mengucapkan kata-kata “Yaa Allah, aku berlindung padamu dari dosa dan berutang”. Seseorang bertanya padanya “Yaa Rasulullah, mengapa begitu sering engkau berlindung dari berutang?” Jawabnya “Bila orang berutang, dia berdusta, berbohong dan berjanji. Tetapi memungkiri janjinya” (HR. BUKHARI)

Sedangkan dalam hawalah ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dan pengalihan penagihan hutang ini dibenarkan oleh syariah dan telah dipraktekkan oleh kaum Muslimin dari zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang. Dalam al-Qur’an kaum Muslimin diperintahkan untuk saling tolong menolong satu sama lain. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Firman Allah : (QS.Al-Maidah: 2 )

Akad hawalah merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang merupakan manifestasi dari semangat ayat tersebut[1].

Kemudian berdasarkan hadist Barangsiapa yang mempunyai hutang namun dia mempunyai piutang pada orang lain yang mampu, kemudian dia memindahkan kewajiban membayar hutangnya kepada orang lain yang mampu itu, maka orang yang mampu tersebut wajib menerima kewajiban itu. Nabi saw bersabda: “Penundaan orang yang mampu (melunasi hutang) itu adalah zhalim, dan apabila seorang di antara kamu menyerahkan (kewajiban pembayaran hutangnya) kepada orang kaya, maka terimalah.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5876).

Selanjutnya pembahasan mengenai Hawalah akan dikupas tuntas dalam pembahasan berikut ini.

 

PEMBAHASAN

  1. DEFINISI HAWALAH

Secara bahasa pengalihan hutang dalam hukum islam disebut sebagai hiwalah yang mempunyai arti lain yaitu Al-intiqal dan Al-tahwil, artinya adalah memindahkan dan mengalihkan[2].

Penjelasan yang dimaksud adalah memindahkan hutang dari tanggunganmuhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal’alaih (orang yang melakukan pembayaran hutang)[3].

لغة : النقل من محل إلى محل

Sedangkan pengertian Hiwalah secara istilah, para Ulama’ berbeda-beda dalam mendefinisikannya, antara lain sebagai berikut:

Menurut Hanafi, yang dimaksud hiwalah[4]

نقل المطا لبة من دمة المديون إلى دمة الملتزم

Memidahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab pula”.

  1. Al-jaziri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Hiwalah adalah:

نقل الدين من دمة إلى دمة

“Pemindahan utang dari tanggung jawab seseorang menjadi tanggung jawab orang lain”.

  1. Syihab al-din al-qalyubi bahwa yang dimaksud dengan Hiwalah adalah:

عقد يقتضى انتقال دين من دمة إلى دمة

“Akad yang menetapkan pemindahan beban utang dari seseorang kepada yang lain”.

  1. Muhammad Syatha al-dimyati berpendapat bahwa yang dimaksud Hiwalah adalah:

عقد يقتضى تحويل دين من دمة إلى دمة

“Akad yang menetapkan pemindahan utang dari beban seseorang menjadi beban orang lain”.

  1. Ibrahim al-bajuri berpendapat bahwa Hiwalah adalah:

نقل الحق من دمة المحيل إلى دمة المحال عليه

“Pemindahan kewajiban dari beban yang memindahkan menjadi beban yang menerima pemindahan”.

  1. Menurut Taqiyuddin, yang dimaksud Hiwalah adalah:

إنتقال الدين من دمة إلى دمة

Pemindahan utang dari beban seseorang menjadi beban orang lain”.

  1. Menurut Sayyid Sabiq, yang dimaksud dengan hawalah ialah pemindahan dari tanggungan muhil menjadi tanggunggan muhal ‘alaih.
  2. Idris Ahmad, Hiwalah adalah “Semacam akad (ijab qobul) pemindahan utang dari tanggungan seseorang yang berutang kepada orang lain, dimana orang lain itu mempunyai utang pula kepada yang memindahkan.
  1. DASAR HUKUM HAWALAH

Hiwalah dibolehkan berdasarkan Sunnah dan Ijma’:

  1. Hadits

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairoh, bahwa Rasulullah saw, bersabda:

مطل ا لغني ظلم فادا أ تبع أ حدكم على ملي فليتبع

“Memperlambat pembayaran hukum yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah ia beralih(diterima pengalihan tersebut)”.(HR Jama’ah)

Pada hadits ini Rasulullah memerintahkan kepada orang yang menghutangkan, jika orang yang berhutang menghiwalahkan kepada orang yang kaya dan berkemampuan, hendaklah ia menerima hiwalah tersebut, dan hendaklah ia mengikuti (menagih) kepada orang yang dihiwalahkannya (muhal’alaih), dengan demikian hakknya dapat terpenuhi (dibayar).

Kebanyakan pengikut mazhab Hambali, Ibnu Jarir, Abu Tsur dan Az Zahiriyah berpendapat : bahwa hukumnya wajib bagi yang menghutangkan (da’in) menerima hiwalah, dalam rangka mengamalkan perintah ini. Sedangkan jumhur ulama berpendapat : perintah itu bersifat sunnah.

  1. Ijma’

Para ulama sepakat membolehkan hawalah. Hawalah dibolehkan pada hutang yang tidak berbentuk barang/ benda, karena hawalah adalah perpindahan utang, oleh sebab itu harus pada utang atau kewajiban finansial.

  1. RUKUN HAWALAH

Menurut mazhab Hanafi, rukun hiwalah hanya ijab (pernyataan melakukan hiwalah) dari pihak pertama, dan qabul (penyataan menerima hiwalah) dari pihak kedua dan pihak ketiga.

Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali rukun hiwalah ada enam yaitu:

  1. Pihak pertama, muhil (المحيل):

Yakni orang yang berhutang dan sekaligus berpiutang,

  1. Pihak kedua, muhal atau muhtal (المحال او المحتال):

Yakni orang berpiutang kepada muhil.

  1. Pihak ketiga muhal ‘alaih (المحال عليه):

Yakni orang yang berhutang kepada muhil dan wajib membayar hutang kepada muhtal.

  1. Ada hutang  pihak pertama pada pihak kedua, muhal bih (المحال به):

Yakni hutang muhil kepada muhtal.

  1. Ada hutang pihak ketiga kepada pihak pertama

Utang muhal ‘alaih kepada muhil.

  1. Ada sighoh (pernyataan hiwalah).
  1. SYARAT-SYARAT HAWALAH

Persyaratan hawalah ini berkaitan dengan Muhil, Muhal, Muhal Alaih dan Muhal Bih.

Persyaratan yang berkaitan dengan Muhil, ia disyaratkan harus, pertama, berkemampuan untuk melakukan akad (kontrak). Hal ini hanya dapat dimiliki jika ia berakal dan baligh. Hawalah tidak sah dilakukan oleh orang gila dan anak kecil karena tidak bisa atau belum dapat dipandang sebagai orang yang bertanggung secara hukum. Kedua, kerelaan Muhil. Ini disebabkan karena hawalah mengandung pengertian kepemilikan sehingga tidak sah jika ia dipaksakan. Di samping itu persyaratan ini diwajibkan para fukoha terutama untuk meredam rasa kekecewaan atau ketersinggungan yang mungkin dirasakan oleh Muhil ketika diadakan akad hawalah.

Persyaratan yang berkaitan dengan Muhal. Pertama, Ia harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan kontrak. Ini sama dengan syarat yang harus dipenuhi oleh Muhil. Kedua, kerelaan dari Muhal karena tidak sah jika hal itu dipaksakan. Ketiga, ia bersedia menerima akad hawalah.

Persyaratan yang berkaitan dengan Muhal Alaih. Pertama, sama dengan syarat pertama bagi Muhil dan Muhal yaitu berakal dan balig. Kedua, kerelaan dari hatinya karena tidak boleh dipaksakan. Ketiga, ia menerima akad hawalah dalam majlis atau di luar majlis.

Persyaratan yang berkaitan dengan Muhal Bih. Pertama, ia harus berupa hutang dan hutang itu merupakan tanggungan dari Muhil kepada Muhal. Kedua,hutang tersebut harus berbentuk hutang lazim artinya bahwa hutang tersebut hanya bisa dihapuskan dengan pelunasan atau penghapusan[5].

  1. JENIS-JENIS HAWALAH

Ada dua jenis hawalah yaitu hawalah muthlaqoh dan hawalah Muqoyyadah.

  1. Hawalah Muthlaqoh terjadi jika orang yang berhutang (orang pertama) kepada orang lain ( orang kedua) mengalihkan hak penagihannya kepada pihak ketiga tanpa didasari pihak ketiga ini berhutang kepada orang pertama. Jika A berhutang kepada B dan A mengalihkan hak penagihan B kepada C, sementara C tidak punya hubungan hutang pituang kepada B, maka hawalah ini disebut Muthlaqoh. Ini hanya dalam madzhab Hanafi dan Syi’ah sedangkan jumhur ulama mengklasifikasikan jenis hawalah ini sebagai kafalah.
  2. Hawalah Muqoyyadah terjadi jika Muhil mengalihkan hak penagihan Muhal kepada Muhal Alaih karena yang terakhir punya hutang kepada Muhal. Inilah hawalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan para ulama.
    Ketiga madzhab selain madzhab hanafi berpendapat bahwa hanya membolehkan hawalah muqayyadah dan menyariatkan pada hawalah muqayyadah agar utang muhal kepada muhil dan utang muhal alaih kepada muhil harus sama, baik sifat maupun jumlahnya. Jika sudah sama jenis dan jumlahny, maka sahlah hawalahnya. Tetapi jika salah satunya berbeda, maka hawalah tidak sah.

Hawalah Haq

Hawalah ini adalah pemindahan piutang dari satu piutang kepada piutang yang lain dalam bentuk uang bukan dalam bentuk barang. Dalam hal ini yang bertindak sebagai Muhil adalah pemberi utang dan ia mengalihkan haknya kepada pemberi hutang yang lain sedangkan orang yang berhutang tidak berubah atau berganti, yang berganti adalah piutang. Ini terjadi jika piutang A mempunyai hutang kepada piutang B.

Hawalah Dayn

Hawalah ini adalah pemindahan hutang kepada orang lain yang mempunyai hutang kepadanya. Ini berbeda dari hawalah Haq. Pada hakekatnya hawalah dayn sama pengertiannya dengan hawalah yang telah diterangkan di depan.

  1. HAKIKAT HAWALAH

Kalangan Hanafiah dan Malikiah berpendapat bahwa hawalah adalah pengecualian dalam transaksi jual beli, yakni menjual hutang dengan hutang. Hal ini karena manusia sangat membutuhkannya. Hal ini juga merupakan pendapat yang paling dianggap sahih di kalangan Syafi’iah dan juga menurut salah satu riwayat di kalangan Hanabilah. Dasarnya adalah Hadist yang artinya : jika salah seorang dari kamu sekalian dipindahkan hutangnya kepada orang kaya, maka terimalah (HR.Bukhari dan Muslim)

Yang sahih menurut Hanabilah bahwa hawalah adalah murni transaksi irfaq (memberi manfaat) bukan yang lainnya[6].

Ibnu al-Qayyim berkata, “Kaidah-kaidah syara’ mendukung dibolehkannya hawalah, dan ini sesuai dengan qiyas[7]

  1. UNSUR KERELAAN DALAM HAWALAH
  2. Kerelaan Muhal

Mayoritas ulama Hanafiah, Malikiah dan Syafi’iah berpendapat bahwa kerelaan muhal (orang yang menerima pindahan) adalah hal yang wajib dalam hawalah karena hutang yang dipindahkan adalah haknya, maka tidak dapat dipindahkan dari tanggungan satu orang kepada yang lainnya tanpa kerelaannya. Demikian ini karena penyelesaian tanggungan itu berbeda-beda, bisa mudah, sulit, cepat dan tertunda-tunda.

Hanabilah berpendapat bahwa jika muhal ‘alaih (orang yang berhutang kepada muhil) itu mampu membayar tanpa menunda-nunda dan tidak membangkang, muhal (orang yang menerima pindahan) wajib menerima pemindahan itu dan tidak diisyaratkan adanya kerelaan darinya. Mereka mendasarkan hal ini kepada hadist yang telah diseutkan di atas.

Alasan mayoritas ulama mengenai tidak adanya kewajibanmuhal (orang yang menerima pindahan) untuk menerima hawalah adalah karena muhal ‘alaih kondisinya berbeda-beda ada yang mudah membayar dan ada yang menunda-nunda pembayaran. Dengan demikian, jika muhal ‘alaih mudah dan cepat membayar hutangnya, dapat dikatakan bahwa muhal wajib menerima hawalah. Namun jika muhal ‘alaih termasuk orang yang sulit dan suka menunda-nunda memayar hutangnya, semua ulama berpendapat muhal tidak wajib menerima hawalah.

  1. Kerelaan Muhal ‘Alaih

Mayoritas ulama Malikiah, Syafi’iah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak ada syarat kerelaan muhal ‘alaih, ini berdasarkan hadist yang artinya: jika alah seorang diantara kamu sekalian dipindahkan hutangnya kepada orang kaya, ikutilah (terimalah). (HR.Bukhari dan Muslim). Di samping itu, hak ada pada muhil dan ia boleh menerimanya sendiri atau mewakilkan kepada orang lain.

Hanafiah berpendapat bahwa diisyaratkan adanya kerelaan muhal ‘alaih karena setiap orang mempunyai sikap yang berbeda dalam menyelesaikan urusan hutang piutangnya, maka ia tidak wajib dengan sesuatu yang bukan menjadi kewajibannya.

Pendapat yang rajih (valid) adalah tidak disyaratkan adanya kerelaan muhal ‘alaih. Dan muhal ‘alaih akan membayar hutangnya dengan jumlah yang sama kepada siapa saja dari keduanya[8].

  1. BEBAN MUHIL SETELAH HAWALAH

Apabila hawalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggung jawab muhil gugur. Andaikata muhal ‘alaih mengalami kebangkrutan atau membantah hawalah atau meninggal dunia, maka muhal tidak boleh kemali lagi kepada muhil, hal ini adalah pendapat ulama jumhur.

Menurut madzhab Maliki, bila muhil telah menipu muhal, ternyata muhal ‘alaih orang fakir yang tidak memiliki sesuatu apapun untuk membayar, maka muhal boleh kembali lagi kepada muhil. Menurut imam Malik, orang yang menghawalahkan hutang kepada orang lain, kemudian muhal ‘alaih mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia dan ia belum membayar kewajiban, maka muhal tidak boleh kembali kepada muhil[9].

Abu Hanifah, Syarih dan Ustman berpendapat bahwa dalam keadaan muhal ‘alaih mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia, maka orang yang menghutangkan (muhal) kembali lagi kepada muhil untuk menagihnya[10].

  1. KEDUDUKAN HUKUM HAWALAH

Pertama, jika hawalah telah disetujui oleh semua pihak maka tanggungan Muhil menjadi gugur dan ia kini bebas dari penagihan utang. Demikian menurut jumhur ulama. Kedua, dengan ditandatanganinya akad hawalah, maka hak penagihan Muhal ini telah dipindahkan kepada Muhal alaih. Dengan demikian ia memiliki wilayah penagihan kepadanya.

  1. BERAKHIRNYA AKAD HAWALAH

Akad hawalah akan berakhir oleh hal-hal berikut ini.

  1. Karena dibatalkan atau fasakh. Ini terjadi jika akad hawalah belum dilaksanakan sampai tahapan akhir lalu difasakh. Dalam keadaan ini hak penagihan dari Muhal akan kembali lagi kepada Muhil.
  2. Hilangnya hak Muhal Alaih karena meninggal dunia atau bangkrut atau ia mengingkari adanya akad hawalah sementara Muhal tidak dapat menghadirkan bukti atau saksi.
  3. Jika Muhal alaih telah melaksanakan kewajibannya kepada Muhal. Ini berarti akad hawalah benar-benar telah dipenuhi oleh semua pihak.
  4. Meninggalnya Muhal sementara Muhal alaih mewarisi harta hawalah karena pewarisan merupakah salah satu sebab kepemilikan. Jika akad ini hawalah muqoyyadah, maka berakhirlah sudah akad hawalah itu menurut madzhab Hanafi.
  5. Jika Muhal menghibahkan atau menyedekahkan harta hawalah kepada Muhal Alaih dan ia menerima hibah tersebut.
  6. Jika Muhal menghapusbukukan kewajiban membayar hutang kepada Muhal Alaih.

PENUTUP

Demikianlah makalah tentang Pemindahan utang piutang (Hawalah) yang dapat kami uraikan, semoga memberikan manfaat bagi kita dan dapat menambah khazanah keilmuan, khususnya mengenai bahasan dalam Fiqh Mu’amalah.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam tulisan maupun penyusunannya, karena selain kami masih dalam tahap belajar, kami juga manusia biasa yang tidak akan lepas dari salah dan dosa. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran konstruktif pembaca demi perbaikan makalah kami selanjutmya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ath Thayyar, Abdullah bin Muhammad, 2004, Ensiklopedi Fiqh Mu’amalah Dalam Pandangan 4 Madzhab, cet I, Yogyakarta: Maktabah Al Hanif.
  • Sabiq, Sayyid, 1987, Fikih Sunnah, Bandung : PT Al-ma’rif.
  • Suhendi, Hendi, 2008, Fiqh Muamalah, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  • http://pengalihan-hutang-dalam-islam-hawalah.html/
  • http//syariahlife.wordpress.com/2007/hawalah/
  • http//ekonomisyariah.net/2009/hawalah-pemindahan-utang-piutang-dalam-perspektif-islam-dan-konvensional/

[1] http//ekonomisyariah.net/2009/hawalah-pemindahan-utang-piutang-dalam-perspektif-islam-dan-konvensional/

[2] Drs. H. Hendi Suhendi M.Si, Fiqh Muamalah, hal: 99

[3] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 13, Bandung : PT Al-ma’rif, Cet 1, 1987.

[4] Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, hal: 99

[5] http//syariahlife.wordpress.com/2007/hawalah/

[6] Ibnu Qudamah : al-Mughni, juz VII, hlm. 56, Hasyisyah ibni ‘Abidin, juz VI,hlm.274, Imam an Nawawi: Raudhah ath-Thalibin, juz IV, hlm. 706, dan Ibnu Rusyd: Bidayatul Mujtahid, juz II, hlm. 299.

[7] Ibnu al-Qayyim: I’lam al-Muwaqqi’in, juz I, hlm. 439.

[8] Abdullah bin Muhammad ath Thayyar, 2004,Ensiklopedi Fiqh Mu’amalah Dalam Pandangan 4 Madzhab, cet I, Yogyakarta: maktabah alHanif, hlm 215-216

[9] Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, 2008, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hal 103

[10] Sayyid sabiq, Fiqh al-Sunnah hal. 44

Iklan

PENGERTIAN TARIKH TASYRI’ DAN PERIODESASINYA

nurwiddy

A. Pengertian Tasyri’
Tarikh tasyri’ terdiri dari dua term kata yaitu tarikh, yang berarti sejarah dan tasyri’ yang berarti penetapan hukum. Dengan demikian tarikh tasyri’ al-Islami secara sederhana dapat difahami sebagai sejarah penetapan suatu hukum.

Dari segi bahasa, tasyri’ berarti pembuatan hukum atau peraturan. Sedangkan pengertian tasyri’ menurut istilah sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Wahab Khalaf “Tasyri’ menurut istilah syara’ ialah pembentukan‘ hukum undang-undang untuk mengetahui hukum-hukum sebuah peristiwa dan perbuatan seorang mukallaf “.

Dengan demikian yang dimaksud dengan Tarikh Tasyri’ ialah Pembahasan mengenai aktifitas sejarah manusia dalam membentuk perundang-undangan untuk mengatur manusia dan pembahasan mengenai keputusan hukum pada masa lalu yang disusun secara sistematis dan kronologis.

Secara literer tarikh tasyri’ juga dapat difahami sebagai ilmu yang membahas tentang keadaan fiqih Islam pada masa kerasulan (Nabi Muhammad SAW) dan masa-masa sesudahnya, dimana masa-masa itu dapat menolong dalam pembentukan hukum, dan dapat menjelaskan hukum yang tiba-tiba datang, baik terdiri dari nasakh, takhsis…

Lihat pos aslinya 2.697 kata lagi

MATA PELAJARAN FIKIH SIYASAH

August 23, 2017

SIYASAH DAULIYAH

REVISI MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Fiqh Siyasah

Dosen Pengampu : Rahmadi


Disusun oleh :

Muhammad Rifqi Ihsani       (122111138)

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2013

  1. PENDAHULUAN

Siyasah dalam peradaban kaum muslim mengatur berbagai bentuk tentang tata cara memimpin, dan membangun pemerintahan. Peradaban Islam tidak akan dapat tegak sempurna tanpa adanya negara yang cocok baginya, yaitu negara Khilafah Islamiyah. Sistem politik Islam yang disebut dengan Siyasah di pandang sebagai sebuah proses yang tidak  pernah selesai. Ia senantiasa terlibat dalam pergulatan sosial dan budaya. Fakta tersebut berlangsung selama perjalanan sejarah ummat Islam. Meskipun demikian nilai siyasah tidak serta merta menjadi relative karena ia memiliki kemutlakan yang terkait keharusan untuk mewujudkan keadilan, rahmat, kemaslahatan dan hikmah.

Kemaslahatan masyarakat, umat, dan bangsa, dan kemudian pada masa itu semua dipandang sebagai upaya-upaya siyasah dalam mewujudkan Islam sebagai ajaran yang adil, memberi makna bagi kehidupan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Semua proses tersebut merupakan langkah awal berkembangnya kajian fiqih siyasah, dimana fiqih siyasah menerima apa yang datang dari luar selama itu untuk kemaslahatan bagi kehidupan umat. Bahkan menjadikannya sebagai unsur yang akan bermanfaat dan akan menambah dinamika kehidupannya.Luasnya pembahasan tentang kajian fiqih siyasah, maka pemakalah hanya mengkaji tema dengan mengangkat judul yakni “Fiqh Daulyah”. Yang mana akan membahas mengenai hubungan internasional, seperti teritorial, dan lain sebagainya.

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana sejarah dari siyasah dauliyah?
  2. Apa pengertian dari siyasah dauliyah?
  3. Apa saja dasar-dasar siyasah dauliyah?
  4. Apa saja pembagian dari siyasah dauliyah?

III.           PEMBAHASAN

  1. Sekilas sejarah siyasah dauliyah

Siyasah dauliyah sudah ada sebelum adanya agama islam, siyasah dauliyah dimasa itu muncul karena adanya untuk hidup berdampingan secara damai di antara berbagai bangsa di dunia, keinginan ini terwujudkan dalam berbagai perjanjian antar negara serta adat kebiasaan. Dari keduanya perjanjian dan adat kebiasaan internasiaonal, menjadi sumber terpenting dalam hubungan damai masa itu.

Walau pun demikian, gejala hubungan antar negara yang sering terjadi pada saat itu lebih sering di tandai dengan adany peperangan, perang menjadi semacam olah raga tahunan bagi suku dan bangsa-bangsa tertentu. Dalam keadaan demikian perang menjadi hubungan dasar diantara mereka. Setiap negara yang ada di tuntut untuk senantiasa siap siaga dalam mempersiapkan diri untuk perang, baik dengan cara mempersenjatai pasukan atu membangun benteng perlindungan dari serangan musuh.

Setelah islam datang siyasah dauliyah(hukum internasional) mendapat banyak perubahan dalam hal perang harus menaari etika perang, harus menepati perjanjian, dan lainnya[1]

  1. Pengertian siyasah dauliyah

Dauliyah bermakna tentang daulat, kerajaan, kekuasaan, wewenang, serta kekuasaan. Sedangkan Siyasah Dauliyah bermakna sebagai kekuasaan kepala negara untuk mengatur negara dalam hal hubungan internasional, masalah territorial, nasionalitas, ekstradisi tahanan, pengasingan tawanan politik, dan pengusiran warga negara asing.

Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa Siyasah Dauliyah lebih mengarah pada pengaturan masalah kenegaraan yang bersifat luar negeri, serta kedaulatan negara. Hal ini sangat penting guna kedaulatan negara untuk pengakuan dari negara lain.Adapun orientasi masalahnya berkaitan dengan:

  1. Penentuan situasi damai atau perang (penentuan sifat darurat kolektif).
  2. Perlakuan terhadap tawanan.
  3. Kewajiban suatu negara terhadap negara lain.
  4. Aturan dalam perjanjian Internasioanal.
  5. Aturan dalam pelaksanaan peperangan.[2]
  1. Dasar-dasar siyasah dauliyah

Dasar-dasar yang di gunakan sebagai landadan para ualam di dalam siysah dauliyah dan dijadikan ukuran apakah siyasah dauliyah berjalan sesuai dengan semagat Al islam atau tidak, adalah :

  1. Kesatuan umat manusia

Meskipun manusia ini berbeda suku berbangsa-bangsa, berbeda warna kulit, berbeda tanah air bahkan berbeda agama, akan tetapi merupakan satu kesatuan manusia karena sama-sama Allah, sama bertempat tinggal di muka bumi ini , sama-sama mengharapkan kehidupan yang bahagia, dan damai dan sama-sama dari Adam. Dengan demikian, maka perbedaan-perbedaan diantara mausia harus disikapi dengan pikiran yang positif untuk memberikan kelebihan masing-masing dan saling menutupi kekurangan masing-masing. Al-qur’an banyak mengisyaratkan kesatuan manusia ini, diantarany dalam Al baqoraoh  213 :

tb%x.â¨$¨Z9$#Zp¨Bé&Zoy‰Ïnºury

Artinya :

“Manusai adalah umat yang satu.” (Q.S. Al baqoroh : 213)[3]

  1. Al-Adalah (keadilan)

Di dalam siyasah dauliyah hidup berdampingan dengan damai baru terlaksana apabila didasarikan kepada keadilan baik antara manusia maupun diantara berbagai negara, bahkan perang pun terjadi karena salah satu pihak merasa di perlakukan secara tidak adil. Oleh karena itu ajaran islam mewajibkan penegakan keadialan baik terhadap diri sendiri , keluarga, tetangga, baik terhadap musuh sekalipun kita wajib bertindak adil. Adapun ayat yang berbiara tebtang keadialan:

ŸwuröNà6¨ZtB̍ôftƒãb$t«oYx©BQöqs%#’n?tãžwr&(#qä9ω÷ès?4(#qä9ωôã$#uqèdÜ>tø%r&3“uqø)­G=Ï9

Artinya:

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. (Q.S. al maisah : 8)[4]

  1. Al-Musawah (persamaan)

Manusia memiliki hak-hak kemanusiaan yang sama, untuk mewujudkan keadilan adalah mempersamakan manusia dihadapan hukum kerjasama internasional sulit dilaksanakan apabila tidak didalam kesederajatan antarnegara dan antarbangsa.

Demikian pula setiap manusia adalah subyek hukum, penanggung hak dan kewajiban yang sama. Semangat dari al-qur’an dan hadis nabi serta perilaku para sahabat yang membebaskan budak adalah untuk mewujudkan persamaan kemanusiaan ini. Karena perbudakan menunjukan adanya ketidak sederajatan kemanusian. Uraian tentang perbudakan yang dikehendakin oleh islam dengan baik antara lain telah ditulis oleh Amir Ali. Hak hidup, hak memilikidan kehormatan kemanusiaan harus sama-sama dihormati dan dilindungi satu-satunya ukuran kelebihan manusia terhadap manusia lainnya adalah ketaqwaannya. Ada pun ayat yang menerangkan tentang persamaan :

$pkš‰r’¯»tƒâ¨$¨Z9$#$¯RÎ)/ä3»oYø)n=yz`ÏiB9x.sŒ4Ós\Ré&uröNä3»oYù=yèy_ur$\/qãèä©

Ÿ@ͬ!$t7s%ur(#þqèùu‘$yètGÏ94¨bÎ)ö/ä3tBtò2r&y‰YÏã«!$#öNä39s)ø?r&

Artinya :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Q.S. al hujurat 13).

adapun perbedaan-perbedaan di antara manusia adalah perbedaan tugas dan posisi fungsi masaing-masing di dalam kiprah kehidupan manusia di dunia ini, bida si simpulkan bahwa al-ashlu fi al-insaniyah al-musawah, yang berarti ”hukum asal di dalam kemanusiaan adalah sama.[5]

  1. Karomah insaniyah ( kehormatan manusia)

Karena kehormatan inilah maka manusai tidak boleh merendahkan manusia lainnya dan suatu kaum tidak boleh merndahkan kaum lainnya. Kehormatan manusia ini berkembang menjadi kehormatan terhadap suatu kaum dan komunitas dan bisa berkembang menjadi suatu bangsa atau negara. Kerja sama internasiaonal tidak mungkin dikembangkan tanpa landasan saling hormat-menghormati. Kehormatan kemanusiaan inilah pada pada gilirannya menumbuhkan harga diri yang wajar baik individu maupun pada komunitas, muslim atauppun non muslil tanpa harus jatuh kepada kesombongan individual atau nasiaonalisme yang ekstrim. Adapun ayat yang menerangkan tentang kehormatan :

ô‰s)s9ur$oYøB§x.ûÓÍ_t/tPyŠ#uä

Artinya : “dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (Q.S. al isra : 70)

Dan juga dalam hadis rasulullah yang artinya :

“ Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum mengolok-olokan kaum lainnya, bisajadi yang mengolok-olokkan lebih baik dari yang mengolok-olokkan, dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokkan wanita lain bisa jadi mereka yang lebih baik, dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jaganlah kamu memanggil dengan panggilan yang buruk.

Hadis dan ayat di atas menunjikan bahwa mencela dan merendahkan manusia lain sama dengan mencela dan merndahkan diri sendiri.[6]

  1. Tasamuh (Toleransi)

Dasar ini tidak mengandung arti harus menyerah kepada kejahatan atau memberi peluang kepada kejahatan. Allah mewajibkan menolak permusuhan dengan yang lebih baik akan menimbulkan persahabatan bila dilakukan pada tempatnya setidaknya akan menetralisir. Adapun ayat Al-qur’an yang menerangkanya :

Ÿwur“ÈqtGó¡n@èpoY|¡ptø:$#Ÿwurèpy¥ÍhŠ¡¡9$#4ôìsù÷Š$#ÓÉL©9$$Î/}‘Ïdß`|¡ômr&

#sŒÎ*sù“Ï%©!$#y7uZ÷t/¼çmuZ÷t/ur×ourºy‰tã¼çm¯Rr(x.;’Í<urÒOŠÏJymÇÌÍÈ

Artinya: “dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.(Q.S. fushilat : 34)

É‹è{uqøÿyèø9$#óßDù&urÅ$óãèø9$$Î/óÚ̍ôãr&urÇ`tãšúüÎ=Îg»pgø:$#ÇÊÒÒÈ

Artinya : “jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.(Q.S. Al a’raf 199).

Sifat pemaaf merupakan sesuatu yang sangat terpuji dan sebaliknya sifat dendam merupakan suatu sifat yang tercela, pemaaf yang baik adalah pemaaf disertai dengan harga diri yang wajar dan bukan pemaaf dalam arti menyerah atau merendahkan diri terhadap kejahatan-kejahatan.[7]

  1. Kerja sama kemanusiaan

Kerjasama kemanusiaan ini adalah realisasi dari dasar-dasar yang telah dikemukakan di atas, kerja sama disini adalah kerjasama disetiap wilayah dan lingkungan kemanusiaan, kerjasama ini diperlukan karena, adanya saling ketergantungan baik antara individu maupun antar Negara dunia ini. Kerja sama merupakan hal yang menguntungkan dalam suasana baik dan untuk kebaikan bersama. Bukan untuk bermusuhan.

Allah akan memberiakan kekuatan pada orang yang mau menolong pada sesama manusia dimana saja. Nabi bersabda: “allah akan selalu menolonh hambaNYA selama hambanya tidak menolonh suadaranya”.hadis ini juga terermin adanya ukhuwah insaniyah, kesadaran akan perlunya kerjasama dan tolong menolong dalam segala bentuk dan cara yang di sepakati yang baik, akan menghilangkan nafsu permusuhan, dan saling berebut hidup. Kehidupan individu dan antar bangsa akan harmonis apabila di dasarkan pada kerjasama bukan pada saling menghancurkan yangsatu dengan yang lain.[8]

  1. Kebebasan, kemerdekaan/ Al-huriyah

Kemerdekaan yang sesungguhnya di mulai dari pembebasan diri daro pengaruh hawa nafsu serta mengendalikannya di bawah bimbingan keimanan dan akal sehat. Dengan demikian kebebasan bukanlah mutlak, akan tetapi kebebasan yang bertangung jawab terhadap Allah, terhadap keselamatan dan kemaslahatan hidup manusia di muka bumi, kebebasan ini bisa di rincikan lebih jau seperti ini :

  1. a)Kebebasan berpikir.
  2. b)Kebebasan beragama.
  3. c)Kebebasan menyatakan pendapat.
  4. d)Kebebasan menuntut ilmu.
  5. e)Kebebasan memiliki harta.[9]
  6. Perilaku moral yang baik

Perilaku yang baik merupakan dasar moral di dalam hubungan antara manusia, antr umat dan antara bangsa di dunia, selain itu pronsip ini pun di terapakan seluruh makhluk Allah di muka bumi, termasuktermasuk flora dan fauna, alam nabatidan alam hewani, budi baik ini tercermin antara lain di dalam kasih sayang.seperti yang ditegaskan di dalam Hadis Nabi :

أ رحموا أهل الأرض يرحمكم من في السما ء (رواه أبوداود)

Artinya :“ Kasih sayangilah yang dibumi, Allah SWT akan menyayangimu.”

Memiliki kehidupan terhadap orang-orang yang lemah, termasuk bangsa yang lemah dan miskin.

Serta mau menepati janji . Allah berfirman :

ياأيهاالّذين ءامنوا أوفوا بالعقود

Artinya :“ Wahai orang-orang beriman tepatilah perjanjian-perjanjianmu. “

Seperti yang telah dikemukakan bahwa salah satu sumber hubungan internasional itu adalah perjanjian antarbangsa.  Apabila perjanjian yang telah di sahkan dan di buat kemudian tidak di tepati, maka kepercayaan akan hilang. Dan apabila sudah terjadi krisis kepercayaan, maka malapetakalah yang akan muncul.

Inilah dasar-dasar siyasah di dalam hubungan internasional atau siyasah dauliyah, dasar-dasar tersebut semuanya mengacu kepada manusia sebagai satu kesatuan umat manusia, atau dengan kata lain dasar-dasar tersebut dalam rangka hifdzu al-Ummah dalam ruang lingkupnya yang paling luas yaitu seluruh manusia yang di ikat oleh rasa ukhwah insaniyah di samping umat dalam arti komunitas adalah keluarga sakinah.[10]

  1. Pembagian siyasah dauliyah

Siyasah dauliyah di bagi menjadi dua yaitu :

  1. Hubungan-hubungan internasional di waktu damai

Sebagai agama yang menjunjung kedamaian, Islam lebih mengutamakan perdamaian dan kerja sama dengan beberapa Negara saja. Islam diturunkan sebagai rahmat untuk alam semesta, karena itu Allah tidak membenarkan ummat Islam melakukan peperangan, apalagi mengekspansi Negara lain kecuali dalam kondisi sangat terdesak dan membela diri.[11]

–       Konsekuensi dari asas bahwa hubungan internasional dalam islam adalah perdamaian saling membantu dalam kebaikan, maka:

  1. Perang tidak dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.
  2. Orang yang tidak ikut berperang tidak boleh di perlakukan sebagi musuh.
  3. Segera meng hentikan perang bila salah satu pihak cenderung kepada damai.
  4. Memperlakukan tawanan perang dengan cara manusiawi.[12]

–          Kewajiban suatu negara terhadap negara lain.

Sebagai agama yang menjunjung kedamaian, Islam lebih mengutamakan perdamaian dan saling membantu dalam kebaikan. Seperti diketahuai pula, subjek hukum dalam siyasah dauliyah adalah negara. Kita telah mengetahui pula tentang pembagian dunia ini di kalangan fuqaha.

Apabila subjekn hukum di dalam siyasah dauliyah adalah negara, maka sudah tentu negara mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. Kewajiban terpenting adalah menghormati hak-hak negara lain dan melaksanakan perjanjian yang telah di buat.[13]

.-perjanjian-perjanjian internasional

Syarat-syarat mengikat suatu perjanjian dalam siyasah dauliyah adalah sah dan mengikat apabila memenuhi empat syarat :

  1. a)Yang melakukan perjanjian memiliki kewenangan.
  2. b)
  3. c)Isi perjanjian dan objeknya tidak dilarang oleh syariat islam.
  4. d)Penulisan perjanjian.[14]
  5. Hubungan-hubungan internasional di waktu perang

Seperti yang sudah disinggung di muka bahwa perang bisa terjadi dalam kondisi darurat, artinya bentuk hukum asal (azimah) sesuai dengan kaidah-kaidah fiqh. Kaum muslimin sendiri pada umumnya manusia dahulu dan sekarang tidak menyenang perang, tetapi bisa terjadi dengan sebab untuk mempertahankan diri,  rangka dakwah[15]

–          Aturan perang dalam islam antara lain :

  1. Pengumuman perang

Telah diterangkan bahwa islam tidak membenarkan peperangan yang bertujuan menaklukan suatu negara, atau perluasan wilayah dan mendiktekan kehendak, perang yang diajarkan dalam islam adalah perang untuk menolak serangan musuh.[16]

  1. Etika dan aturan perang dalam siyasah dauliyah
  2. Dilarang membunuh anak-anak
  3. Dilarang membunuh wanita-wanita yang tidak ikut perang serta memperkosanya
  4. Dilarang membunuh orang yang sudah tua tersebut tidak ikut berperang
  5. Tidak memotong dan merusak pohon-pohon, sawah, dan ladang
  6. Tidak merusak binatang ternak kecuali untuk dimakan
  7. Tidak menghancurkan gereja, biara, dan tempat beribadat lainnya
  8. Dilarang mencincang mayat musuh, bahkan bangkai binatang tidak boleh dicincang
  9. Dilarang membunuh para pendeta dan para pekerja yang tidak ikut perang
  10. Bersikap sabar, berani, dan ikhlas dalam perang
  11. Tidak melampaui batas-batas aturan hukum dan moral dalam peperangan.[17]
  1. KESIMPULAN

Dauliyah bermakna tentang daulat, kerajaan, kekuasaan, wewenang, serta kekuasaan. Sedangkan Siyasah Dauliyah bermakna sebagai kekuasaan kepala negara untuk mengatur negara dalam hal hubungan internasional, masalah territorial, nasionalitas, ekstradisi tahanan, pengasingan tawanan politik, dan pengusiran warga negara asing.

Dasar-dasar yang di gunakan sebagai landadan para ualam di dalam siysah dauliyah dan dijadikan ukuran apakah siyasah dauliyah berjalan sesuai dengan semagat Al islam atau tidak, adalah :

  1. Kesatuan umat manusia
  2. Al-Adalah (keadilan)
  3. Al-Musawah (persamaan)
  4. Karomah insaniyah ( kehormatan manusia)
  5. Tasamuh (Toleransi)
  6. Kerja sama kemanusiaan
  7. Kebebasan, kemerdekaan/ Al-huriyah
  8. Perilaku moral yang baik

Pembagian siyasah dauliyah di bagi menjadi dua :

  1. Hubungan-hubungan internasional di waktu damai

Meliputi : Konsekuensi dari asas bahwa hubungan internasional dalam islam, Kewajiban suatu negara terhadap negara lain,perjanjian-perjanjian internasional

  1. Hubungan-hubungan internasional di waktu perang

Meliputi : Aturan perang dalam islam.

  1. PENUTUP

Demikinlah makalah yang dapat kami susun, semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua. Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Grafindo Persada, 2002

Prof. H. A. Djazuli “fiqh siyasah implementasi kemaslahatan umat dalam rambu-rambu syariah”, jakarta, kencana, 2009

Muhammad Iqbal,  Fiqh Siyasah, Jakarta: Media Pratama, 2001

[1]Prof. H. A. Djazuli “fiqh siyasah implementasi kemaslahatan umat dalam rambu-rambu syariah”, jakarta, kencana, 2009, hal 119- 122

[2]Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Grafindo Persada, 2002,  hal 41.

[3] Prof. H. A. Djazuli “fiqh siyasah implementasi kemaslahatan umat dalam rambu-rambu syariah”, jakarta, kencana, 2009, hal 122

[4] Ibid hal 124

[5] Ibid hal 125-126

[6] Ibid hal 126-125

[7] Ibid hal 127-128

[8] Ibid hal 128

[9] Ibid hal 129-130

[10] Ibid hal 130-131

[11] Muhammad Iqbal,  Fiqh Siyasah, Jakarta: Media Pratama, 2001 hal 238

[12] Prof. H. A. Djazuli “fiqh siyasah implementasi kemaslahatan umat dalam rambu-rambu syariah”, jakarta, kencana, 2009, hal 135

[13] Ibid hal 135

[14]  Ibid hal 137-138

[15] Ibid hal 142

[16] Ibid hal 146

[17] Ibid hal 149-150

FIQIH JINAYAH (JARIMAH DALAM ISLAM)

 

FIQIH JINAYAH

 

A.        PENGERTIAN JINAYAH

Fikih  jinayah  terdiri  dari  dua  kata,  yaitu  fikih  dan  jinayah.  Pengertian  fikih  secara bahasa (etimologi) berasal dari lafal faqiha, yafqahu, fiqhan, yang berarti mengerti, atau paham. Sedangkan pengertian fiqh secara istilah (terminologi) fikih adalah ilmu tentang hukum- hukum syara’ praktis yang diambil dari dalil- dalil yang terperinci.

Adapun jinayah menurut bahasa (etimologi) adalah nama bagi hasil perbuatan seseorang yang buruk dan apa yang diusahakan. Sedangkan jinayah menurut istilah (terminologi) adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta atau lainnya.

 

B.         DASAR HUKUM JINAYAH/JARIMAH DALAM ISLAM

Dalam  islam  dijelaskan  berbagai  norma/atura/rambu-rambu  yang  mesti  ditaati  oleh setiap mukalaf, hal itu telah termaktup dalam sumber fundamental Islam, termasuk juga mengenai  perkara  jarima  atau  tindak  pidana  dalam  Islam,  berikut  kami  akan memaparkan beberapa dalil tentang HPI dan kewajiban menaati hukum Allah SWT.

“Dan dalam qishaash  itu  ada  (jaminan  kelangsungan)  hidup  bagimu,  Hai  orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 179)

“Dan  hendaklah  kamu  memutuskan  perkara  di  antara  mereka  menurut  apa yang diturunkan  Allah,  dan  janganlah  kamu  mengikuti  hawa  nafsu  mereka. dan  berhati-hatilah  kamu  terhadap  mereka,  supaya  mereka  tidak  memalingkan  kamu  dari sebahagian  apa  yang  telah  diturunkan  Allah  kepadamu.  jika  mereka  berpaling  (dari hukum  yang  telah  diturunkan  Allah),  Maka  ketahuilah  bahwa  Sesungguhnya  Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Maidah 49)

“Maka  demi  Tuhanmu,  mereka  (pada  hakekatnya)  tidak  beriman  hingga  mereka menjadikan  kamu  hakim  terhadap  perkara  yang  mereka  perselisihkan,  Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’ 65).

 

C.         UNSUR JINAYAH

1.            Unsur Formal

Adanya  nash,  yang  melarang  perbuatan-perbuatan  tertentu  yang  disertai  ancaman hukuman atas perbuatan-perbuatan diatas.unsur ini dikenal dengan (al ruknu al-syar’i).

2.            Unsur Moriel

Adanya  perbuatan  yang  membentuk  jinayah,  baik  melakukan    perbuatan  yang  dilarang atau  meniggalkan  perbuatan  yang  diharuskan.  Unsur  ini  dikenal  dengan  (al-ruknu  al-madi).

3.            Unsur Material

Pelaku  kejahatan  adalah  orang  yang  dapat  menerima  khithab  atau  dapat  memahami taklif..unsur ini dikenal dengan (al-ruknu al-adabi).

 

D.        MACAM-MACAM JARIMAH

Para  ulama  membagi  jarimah  berdasarkan  aspek  berat  dan  ringannya  hukuman  serta ditegaskan  atau  tidaknya  oleh  al-quran  dal  al-hadits,  atas  dasar  ini  mereka  membagi menjadi tiga macam, yaitu :

1.            Jarimah hudud, yang meliputi:

Hudud, jamaknya “had”. Arti menurut bahasa ialah : menahan (menghukum). Menurut istilah hudud berarti: sanksi bagi orang yang melanggar hukum syara’ dengan cara didera/ dipukul (dijilid) atau dilempari dengan batu hingga mati (rajam). Sanksi tersebut dapat pula berupa dipotong tangan lalu sebelah atau kedua-duanya atau kaki dan tangan keduanya,  tergantung  kepada  kesalahan  yang  dilakukan.  Hukum  had  ini  merupakan hukuman yang maksimal bagi suatu pelanggaran tertentu bagi setiap hukum.

Jarimah hudud ini dalam beberapa kasus di jelaskan dalam al-Qur’an surah An-Nur ayat 2,  surah an-Nur: 4, surah al-Maidah ayat 33, surat al-Maidah ayat 38.

a.         Perzinaan

b.         Qadzaf (menuduh berbuat zina)

c.         Meminum minuman keras

d.        Pencurian

e.         Perampokan

f.          Pemberontakan

g.         Murtad

2.            Jarimah qishas/diyat, yang meliputi :

Hukum  qisos  adalah  pembalasan  yang  setimpal  (sama)  atas  pelanggaran  yang  bersifat pengerusakan  badan.    Atau  menghilangkan  jiwa,  seperti  dalam  firman  Allah  SWT.

Surah al-Maidah : 45, surah al-Baqarah : 178 Diat adalah denda yang wajib harus dikeluarkan baik berupa barang maupun uang oleh seseorang  yang  terkena  hukum  diad  sebab  membunuh  atau  melukai  seseorang  karena ada  pengampunan,  keringanan  hukuman,  dan  hal  lain.  Pembunuhan  yang  terjadi  bisa dikarenakan  pembunuhan  dengan  tidak  disengaja  atau  pembunuhan  karena  kesalahan (khoto’). Hal ini dijelaskan dalam al-Quraan surah an-Nisa’ : 92.

a.         Pembunuhan sengaja.

b.        Pembunuhan semi sengaja.

c.         Pembunuhan tersalah.

d.        Pelukan sengaja.

e.         Pelukan semi sengaja.

3.            Jarimah Jarimah ta’zir

Hukum ta’zir adalah hukuman atas pelanggaran yang tidak di tetapkan hukumannya dalam  al-Quran  dan  Hadist  yang  bentuknya  sebagai  hukuman  ringan.menurut  hukum islam, pelaksanaan hukum ta’zir diserahkan sepenuhnya kepada hakim islam hukum ta’zir diperuntukkan bagi seseorang yang melakukan jinayah/ kejahatan yang tidak atau belum  memenuhi  syarat  untuk  dihukum  had  atau  tidak  memenuhi  syarat  membayar diyat sebagai hukum ringan untuk menebus dosanya akibat dari perbuatannya. ta’zir ini dibagi menjadi tiga bagian :

a.         Jarimah  hudud  atau  qishah/diyat  yang  syubhat  atau  tidak  memenuhi  syarat, namun  sudah  merupakan  maksiat,  misalnya  percobaan  pencurian,  percobaan pembunuhan, pencurian dikalangan keluarga, dan pencurian aliran listrik.

b.        Jarimah-jarimah yang ditentukan al-quran dan al-hadits, namun tidak ditentukan sanksinya, misalnya penghinaan, saksi palsu, tidak melaksanakan amanat dan menghina agama.

c.         Jarimah-jarimah  yang  ditentukan  oleh  ulul  amri  untuk  kemashlahatan  umum. Dalam  hal  ini,  nilai  ajaran  islam  di  jadikan  pertimbangan  penentuan  kemashlahatan umum. persyartan  kemaslahatan  ini  secara  terinci  diuraikan  dalm  bidang  studi  Ushul Fiqh, misalnya, pelanggaran atas peraturan lalu-lintas. Sedangkan jarimah berdasarkan niat pelakunya dibagi menjadi menjadi dua, yaitu:

1.            Jarimah yang disengaja (al-jarimah al-maqsudah).

2.    Jarimah karena kesalahan (al-jarimah ghayr al-maqsudah/jarimah al-khatha’).

 

E.         MACAM-MACAM  JARIMAH  MENURUT  CARA  MELAKUKAN  DAN KONSEKUENSINYA

1.            JARIMAH PEMBUNUHAN

Pembunuhan  ada tiga macam

a.         Pembunuhan disengaja

Pembunuhan  yang  dilakukan  oleh  seorang  mukallaf  dengan  menggunakan  alat  yang biasa untuk membunuh/mematikan disertai dengan niat untuk membunuh.

·                 Sanksi  pembunuhan disengaja.

Pembunuhan yang disengaja jika telah memenuhi syarat wajib di qisash, jika mendapat maaf dari keluarganya maka dengan membayar diyat, atau jika mendapat pengampunan penuh oleh keluarga terbunuh maka dapat dibebaskan. Allah SWT. Berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang  yang  beriman,  diwajibkan  atas  kamu  untuk  melaksanakan  qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh….” (Qs. al-Baqarah: 178)

b.        Pembunuhan menyerupai sengaja(pembunuhan semi sengaja)

Yaitu  menyengaja  suatu  perbuatan  aniaya  terhadap  orang  lain,  dengan  alat  yang  pada umumnya tidak mematikan, sehingga membuat korban meninggal.

·                 Sanksi pembunuhan semi sengaja

Untuk  pembunuhan  ini  tidak  wajib  qisas,  tapi  hanya  diwajibkan  membayar  denda (diyat) berat kepa keluarga korban (ahli yang dibunuh) diangsur selama tiga tahun.

c.         Pembunuhan tidak sengaja (pembunuhan tersalah)

Yaitu  pembunuhan  yang  terjadi  dengan  tanpa  adanya  maksud  (niat)membunuh,  baik dilihat dari perbuatan maupun orangnya.

·                 Sanksi pembunuhan tersalah

Hukum pembunuhan tersalah ini yaitu tidak wajib qisas, tetapi hanya wajib membayar denda  (diyat)  ringan  yang  dibebankan  kepada  keluarga  pembunuh,  bukan  kepada  si pembunuh.seperti Fiman Allah dalam surah An-Nisa (4) : 92.

 

2.            JARIMAH PENCURIAN

Pencurian  adalah  mengambil  barang  milik  orang  lain  yang  bukan  haknya yang dilakukan secara sembunyi – sembunyi dari tempat penyimpanannya.

·      Sanksi jarimah pencurian.

Seorang pencuri yang telah memuhi syarat yakni: mukallaf, berakal sehat, barang sampai  nisab  maka  harus  dipotong  tangannya  dan  Ia  harus  mengembalikan  barangnya kalau masih ada, dan mengganti kalau sudah tidak ada. Allah berfirman yang artinya: “laki-laki  yang  mencuri  dan  perempuan  yang  mencuri,  potonglah  tangan  keduanya (sebagai)  pembalasan  bagi  apa  yang  mereka  kerjakan  dan  sebagai  siksaan  dari  Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Maidah ; 38)

 

3.            JARIMAH PERAMPOKAN

Perampokan atau Hirabah adalah keluarnya gerombolan bersenjata didaerah islam untuk mengadakan kekacauan, penumpahan darah, perampasan harta, mengoyak kehormatan, merusak tanaman, peternakan, citra agama, akhlak, ketertiban dan undang-undang baik gerombolan tersebut dari orang islam sendiri maupun kafir Dzimmi atau kafir Harbi.

·      Sanksi jarimah perampokan

1.            Dibunuh,

2.            Disalib,

3.            Dipotong tangan dan kakinya secara silang,

4.            Dibuang dari negeri tempat kediamannya.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang  yang  memerangi  Allah  dan  Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong  tangan  dan  kaki  mereka  dengan  bertimbal  balik,  atau  dibuang  dari  negeri (tempat  kediamannya).  yang  demikian  itu  (sebagai)  suatu  penghinaan  untuk  mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”(QS. Al-Maidah:33)

 

4.            JARIMAH ZINA

Zina  dapat  diartikan  sebagai  suatu  perbuatan  yang  menyangkut  hubungan  seksual  dan semacamnya  tanpa  adanya  ikatan  suami-istri  yang  dilakukan  oleh  mukallaf  baik  yang sudah menikah atau masih bujang.

·      Sanksi jarimah zina

Zina dibagi dua:

a.    Zina muhson

Adalah perbuatan zina yang dilakukan oleh seorang yang telah menikah secara sah. maka hukumnya dengan rajam, yaitu dilempari batu hingga mati

b.    Zina ghairu muhson

Adalah perbuatan zina yang dilakukan oleh orang yang belum menikan. Makah hukumannya dengan jilid/dipukul 100 kali dan diasingkan selama setahun.

Allah SWT. Berfirman yang artinya: “perempuan yang berzina dan laki-laki  yang  berzina,  Maka  deralah  tiap-tiap  seorang dari  keduanya  seratus  dali  dera,  dan  janganlah  belas  kasihan  kepada  keduanya mencegah  kamu  untuk  (menjalankan)  agama  Allah,  jika  kamu  beriman  kepada  Allah, dan hari  akhirat,  dan  hendaklah  (pelaksanaan)  hukuman  mereka  disaksikan  oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”.( QS, An-Nur ayat 2)

 

5.            JARIMAH MINUM MINUMAN TERLARANG

Secara  bahasa,  khamr  artinya  sesuatu  yang  menutupi,  sedangkan  menurut  dalam itilah fiqh  yaitu  segala  macam  yang  memabukan.  Sebagaimana  sabda  Rsulullah  SAW  yang artinya  kurang  lebih;  ”  Tiap-tiap  yang  memabukan  adalah  khamr  dan  setiap  khamr adalah haram.” (HR. Muslim) Menurut Mazhab Syafi’i, had khamr adalah didera 80 kali, namun menurut Mazhab Hanafi, had khamr adalah dera 40 kali. Dan pelaksanaan hukumannya dilakukan setelah semuanya  benar-benar  terbukti  dan  dilaksanakan  di  khalayak  ramai  seperti  halnya pezina.

Rasulullah SAW. Bersabda: “Dari Anas Bin Malik ra, dihadapkan kepada nabi SAW seseorang yang telah meminum khamr,  kemudian  menjilidnya  dengan  dua  tangkai  kurma  kira-kira  40  kali.”  (HR Mutafaqun ‘alaihi).

 

F.          PERCOBAAN DAN KERJASAMA MELAKUKAN JARIMAH

1.            Percobaan.

Percobaan  melakukan  jarimah  maksudnya  yaitu  melakukan  perbuatan  jarimah  blm dikerjakan dengan sempurna, dalam hukum pidana islam Percobaan Melakukan Jarimah tdk dikenal secara khusus, namun dpt digolongkan pd jarimah ghairu tammah.

Dalam hukum Pidana Islam : jarimah hudud, qisas diyat, harus dilakukan dg sempurna, jika tdk maka ta’zir. Hadis nabi :  “Barang siapa yg mmberikan hkman han bukan terhadap jarimah had, maka dia digolongkan orang2 yg melewati batas”.

Sehingga  demikian  percobaan  pencurian  tdk  boleh  disamakan  pencurian  dan sebagainya.

2.            Kerjasama

Kerjasama  melakukan  jarimah  maksudnya  pelaku  bersama-sama  melakukan  jarimah. Dalam  bentuk  ini  tiap-tiap    pelaku  masing-masing    memberikan  andilnya  dlm melakukan jarimah.

Para juris islam mengklasifikasi  kerjasam melakukan jarimah menjdi dua yaitu

a.       Sekutu berbuat jarimah secara langsung ( كيرش   رشابم ):  yaitu pelaku bersama-sama denga orang lainaktif melakukan jarimah atau kawan nyata dlm melakukan jarimah. Ini ada 2 :

1)     Secara  kebetulan  (قفاوت),  tdk  ada  kesepakatan  seblmnya.  Seperti  yg  terjadi  dlm kerusuhan, perkelahian, atau demonstasi masal.

2)     secara  berencana  (ؤلامت).Para  fuqaha  mmbedakan  tanggung  jawab  pelaku  jarimah dari kedua kerjasama tersebut. Pertanggungjwban pelaku kebetulan dan berencana :

a)        Menurut abu hanifah : sanksinya sama / dibebankan pada setiap masing-masing sesuai  dg  perbuatannya.  Contoh  :  dipersalahkan  karena  menyekap,  menganiaya, mmbunuh, dll. Sesuai perbuatannya.

b)        Jumhur ulama’ : kebetulan : masing-masing  bertanggung  jawab  terhadap perbuatan pidana yg dilakukan. berencana  :  semua  pelaku  pidana  sama,  jika  korban  meninggal,  maka  semuanya dikenakan hukuman mati (qishas).

c)        Sekutu berbuat jarimah secara tidak langsung (كيرش   ببستم ): kawan berbuat secara tidak  nyata.  Tapi  menjadi    factor  penyebab  adanya  jarimah,.  Misalanya  menghasut, memberi  bantuan atau juga member  janji  tertentu.

 

G.        PEMBUKTIAN PELAKSANAAN JARIMAH (QISASH DAN DIYAT)

Alat-alat  bukti  dalam  menetapkan  sebuah  kejahatan  yang  mengakibatkan  qishas  atau diyat adalah sebagai berikut:

1.  Pengakuan  (رارقلإا):  syarat  dalam  pengakuan  bagi  kasus  pidana  yang  akan berakibatkan  kisas  atau  diyat  adalah  harus  jelas  dan  terperinci.  Tidak  sah  pengakuan yang umum dan masih terdapat syubhat.

2.  Persaksian (ةداهشلا): Dalam kasus pidana selain zina (4 orang saksi lelaki adil), syarat minimal adalah 2 orang saksi lelaki yang adil.

3.  Qarinah:  Segala  tanda-tanda  yang  zahir  yang  bersamaan  dengan  sesuatu yang masih samar, maka tanda itu menunjukkan kepada itu.

4.  Menarik  diri  dari  Bersumpah  (لوكنلا   نع   نيميلا ):  Ketika  terdakwa  menarik  diri (mengelak)  dari  bersumpah  yang  diajukan  kepada  terdakwa  melalui  hakim  (menurut mazhab Hanafiyah)

5.  Al-Qasamah:  Sebuah  sumpah  yang  diulang-ulang  bagi  kasus  pidana pembunuhan. Ia dilakukan 50 kali sumpah dari 50 lelaki.

 

H.        SEBAB HAPUSNYA HUKUMAN

Secara umum ada empat sebab yang menyebabkan hapusnya hukuman jarimah

1.            Paksaan

Yakni pelaku dipaksa melakukan perbuatan jarimah yang tidak dikehendaki.

2.            Mabuk

Orang mabuk adalah orang  yg mengigau dlm percakapannya.menghilangkan cakapnya bertindak, oleh karena itu tdk sah akad, ucapan dan perbuatannya.Jika ia dipaksa untuk mabuk, kemudian dia melakukan jarimah, maka ia tdk dikenakan pidana,Namun jika ia mabuk  atas  kemauannya  sendiri,  kemudian  ia  melakukann  jarimah,  maka  ia  tetap dikenakan pidana. Karena ia sengaja menghilangkan kesadarannya sendiri..

3.            Gila

Gila dapat diartikan sebagai hilangnya atau telepasnya akal.

4.            Belum baligh.

Yakni anak yang belum tamyis belum mmiliki kemampuan berpikir dan belum mengerti akibat dari perbuatan yang dilakukan. Namun  ada  beberapa  sebab  lain  dalam  kasus  tertentu  yang  menyebabkan  gugurnya sanksi jarimah, yaitu:

a.             Pelaku jarimah meninggal.

b.            Pelaku jarimah  bertobat.

c.             Tidak terdapat bukti dan saksi serta tidak ada pengakuan.

d.            Terbukti bahwa dua orang saksinya itu dusta dalam persaksiannya,

e.             Pelaku menarik kembali pengakuannya,

f.             Mengembalikan harta yang dicuri sebelum diajukan ke sidang hal ini terjadi pada pelaku pencurian dan hirabah, (Menurut Imam Abu Hanifah).

g.            Dimilikinya  harta  yang  dicuri  itu dengan  sah  oleh  pencuri  sebelum  diajukan  ke pengadilan. (Menurut Imam Abu Hanifah).

 

PUSTAKA

·           Jazuli,Ahmad .fiqh jinayah,PT RajaGrafindo persada. Jakarta. Cetakan I.1999.

·           Audah, Abdul Qadir. At Tasyri’ Al Jina’iy Al Islamiy. Dar Al Kitab Al Araby, Beirut. Juz 1.

·           Kallaf, Abdul wahab. Ilmu Ushul Al-Fiqh. Ad Dar Al Kuwaitiyah. Cetakan VIII. 1968.

·           Muslich, Ahmad Wardi. Pengantar dan Asas Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika. 2004

·           Abdullah, Musthafa. dkk. Intisari Hukum Pidana. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1983.

muhamad salim di 11:01 PM

Share

 

BANTAHAN THD USTADZ ABDUL SHOMAD

🥪 *Bantahan* 🥞
_Tahdzir_
*Antara Ust. Abdul Somad, MA,Antara Bidah hasanah,Kisah Bilal(pro Nabi, Sahabat)*

Alhamdulillah

*KALENDER PUASA 2018*
Silakan download highresnya di:
PDF http://bit.ly/KPuasa2018pdf
JPG http://bit.ly/KPuasa2018jpg

baca juga:
*1. Antara Ust. Abdul Somad, MA,Antara Bidah hasanah,Kisah Bilal(pro Nabi, Sahabat)*
https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/01/02-antara-ust-abdul-somad-bidah-hasanah-kisah-bilal/
*2.Antara Ust. Abdul Somad, MA,Masalah Istiwaa,Aqidah Asy’ariyyah,Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)*
https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/29/01-antara-ust-abdul-somad-istiwaaa-asyariyyah-mutazilah-imam-abul-hasan-al-asyary/

ttg bid’ah hasanah baca
*1.Adakah Bid’ah Hasanah,Beda Bid’ah hasanah & Sayyi’ah, Setiap Manusia bisa diambil atau Ditolak Ucapannya Kecuali Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi Wa Sallam*
https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/31/01-adakah-bidah-hasanah/
*2.Bantahan Terhadap Syubhat Pendapat yang Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah & 2 Jawaban Untuk Menolaknya*
https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/01/22-bantahan-terhadap-syubhat-bidah-hasanah/
*3.Bid’ah Hasanah yang Dimaksud,Imam Syafi’i, Umar bin Khatab, Imam An Nawawi,shalafush Shalih, &Apakah para Sahabat tidak tahu bid’ah hasanah*
https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/01/03-bidah-hasanah-menurut-imam-syafii-umar-bin-khatab-imam-an-nawawi-shalafush-shalih/

_artikel ini semata-mata ingin mengungkapkan fakta yang sesungguhnya tentang dalil atau argumentasi yang menyokong apa yang beliau sebut sebagai bid’ah mahmudah atau bidah hasanah. bid’ah hasanah oleh Ust. Somad hafizhahullah, *bahwasanya pendapat UstSomad justru bertentangan dengan prinsip Rasulullah dan para Sahabatnya, tidak sesuai dengan pendapat as-Salaf as-Shalih, perbuatan Bilal tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk menyokong adanya bid’ah mahmudah/hasanah dalam ranah ritual ibadah sehingga seseorang bisa bebas melakukan atau membuat ibadah-ibadah baru (seperti ritual perayaan Maulid)*._

_*Adapun pada zaman ini, Rasul sudah tiada, wahyu sudah terputus dan agama sudah disempurnakan. Wahyu mana yang akan menjamin keabsahan setiap ide atau kreasi orang dalam ibadah..?* Sementara itu amalan yang dilakukan oleh Bilal adalah amalan yang dilakukan pada waktu Rasul masih hidup, dan belum diturunkan ayat tentang kesempurnaan Islam:_
_*Ibadah yang diada-adakan pada zaman ini tidak ada jaminan legitimasi dari Allah dan Rasulullah ﷺ. Karena agama ini sudah disempurnakan, Rasulullah ﷺ sudah wafat dan wahyu telah terputus.* Di sisi yang lain, Rasulullah ﷺ telah *menutup peluang bagi orang-orang belakangan untuk berkreasi dalam ibadah*, melalui sabdanya:_
كل بدعة ضلالة
*“Semua bid’ah itu sesat”*

*Di samping itu, artikel ini juga berharap agar para pembaca tidak mengikuti kesalahan seorang figur yang keliru dalam masalah aqidah. Karena kekeliruan dalam masalah aqidah, sangatlah fatal*

*Ustadz Aunur Rafiq Ghufran · Kaidah dalam Mentahdzir* https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Aunur%20Rafiq%20Ghufran/Kaidah%20dalam%20Mentahdzir/Kaidah%20dalam%20Mentahdzir.mp3?l=12

Kami perlu mengingatkan, baik kepada yang pro maupun kontra:
_1. Jaga diskusi dari kata-kata jorok atau menghina fisik karena kita sudah dewasa dan mengenal agama. Ini terutama kami tujukan kepada ikhwan yang berseberangan dengan Ust. H. Abdul Somad karena jangan sampai tahdzir ini jadi terkotori dan tidak ilmiah lagi karena sebab terselip caci maki. Ibarat biji cabai yang menempel di gigi._
_*2. Jangan jadi dukun yang mengklaim dirinya tahu segalanya bahkan isi hati orang*. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dimarahi Nabi ketika ia membunuh orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah lantaran menduga orang itu mengucapkannya karena takut pedang. Jangan tuduh baik kami maupun Ust. H. Abdul Somad pada sesuatu yang tersimpan dalam dada kami. Serahkan itu kepada Allah yang Maha Mengetahui._

*UNTUK PARA DA’I**
_*1. Dakwah bukan hanya amar ma’ruf tapi juga nahi munkar. Jangan alergi terhadap kritik pemikiran menyimpang karena itu termasuk jihad di jalan Allah untuk menyelamatkan umat dari paham yang menyeberangkan mereka dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang dipahami salafush shalih.* Hanya saja perlu menimbang-nimbang kapan kita mengkritik pemikiran menyimpang dengan menyebut nama dan kapan sekedar membantah penyimpangannya. Kita perhatikan mashlahat madharatnya._

_*2. Jika ada pemikiran menyimpang yang menyebar luas, tidak ada salahnya bahkan in syaa Allah berpahala jika dibantah, diluruskan dengan niat untuk menjaga agama Allah*._

*(Pendalilan Bid’ah Hasanah dengan Kisah Bilal)*

———
_Ust. H. Abdul Somad, Lc., MA. –semoga Allah selalu menjaga dan membimbing beliau— dalam bukunya yang berjudul “37 Masalah Populer” pada halaman yang ke-42, membawakan *kisah tentang Bilal radhiallahu ‘anhu. Kisah ini beliau jadikan sebagai dalil atau argumentasi yang menyokong apa yang beliau sebut sebagai bid’ah mahmudah atau bidah hasanah.*_

Beliau mengatakan:

_“Ada beberapa perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ tidak pernah beliau ucapkan dan tidak pernah beliau ajarkan. Tapi dilakukan oleh sahabat, Rasulullah ﷺ membenarkannya.”_

_Kemudian beliau membawakan riwayat dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam shahihnya (no. 1149) dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya (no. 2458)._

Disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bertanya kepada Bilal:

يا بلال حدثني بأرجى عمل عملته في الإسلام فإني سمعت دف نعليك في الجنة

_“Wahai Bilal, kabarkan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan dalam Islam ini. Karena aku mendengar suara terompahmu dihadapanku di surga._

قال: ما عملت عملا أرجى عندي أني لم أتطهر طهورا في ساعتي ليلا ونهارا إلا صليت بذلك الطهور

_Bilal menjawab: “tidak ada amalan yang paling aku harapkan di sisiku melainkan jika aku berwudhu baik di waktu malam maupun di siang hari melainkan pasti aku melakukan shalat setelahnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah untukku dari shalat tersebut”_

Setelah membawakan hadits ini, Ust. Abdul Somad memberikan kesimpulan:

_*“Apakah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat sunnat setelah wudhu’? tentu tidak pernah,* karena *tidak ada hadits menyebut Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah melakukan, mengucapkan atau mengajarkan shalat sunnat dua rakaat setelah wudhu’*. Jika demikian maka shalat sunnat setelah wudhu’ itu bid’ah, karena Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. *Ini menunjukkan bahwa shalat sunnat dua rakaat setelah wudhu’ itu bid’ah hasanah*.._

_Jika ada yang mengatakan bahwa ini sunnah taqririyyah, memang benar. Tapi ia menjadi sunnah taqririyyah setelah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam membenarkannya. Sebelum Rasulullah ﷺ membenarkannya, ia tetaplah bid’ah, amal yang dibuat-buat oleh Bilal. Mengapa Bilal tidak merasa berat melakukannya? Mengapa Bilal tidak mengkonsultasikannya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sebelum melakukanya? Andai Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tidak bertanya kepada Bilal, tentulah Bilal melakukannya seumur hidupnya tanpa mengetahui apa pendapat Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tentang shalat dua rakaat setelah wudhu’ itu. Maka jelaslah bahwa shalat setelah wudhu’ itu bid’ah hasanah sebelum diakui Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam . Setelah mendapatkan pengakuan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam , maka ia berubah menjadi Sunnah taqririyyah. Fahamilah dengan baik!” (37 Masalah Populer, hal: 42-43)_

*Tanggapan dan Kritikan:*

_*Pertama: Jika kita memperhatikan dengan seksama, redaksi hadits ini sama sekali tidak mengandung indikasi sedikitpun bahwasanya Bilal membuat atau mengada-ada ibadah yang baru. *Rasulullah ﷺ hanya sekedar bertanya* kepada Bilal tentang amalan apa yang paling beliau harapkan, karena Rasulullah ﷺ mendengarkan suara terompah beliau di surga. Ini tidak menunjukan bahwasanya Bilal mengada-ada amalan baru._

_*Kedua: Shalat dua rakaat yang dilakukan oleh Bilal setelah berwudhu’ sudah memiliki dasar nash yang tegas dan jelas* (bukan bid’ah yang dilakukan Bilal sebagaimana anggapan Ust. Abdul Somad). Di antara nash tersebut adalah:_

*Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya (no. 234),* bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

_*“Tidaklah seseorang melakukan wudhu dengan wudhu yang baik, kemudian dia melakukan shalat 2 rakaat* dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan pasti dia akan mendapatkan surga”_

*Hadits ini dengan tegas sekali menyebutkan bahwa shalat 2 rakaat setelah berwudhu adalah perkara yang disunnahkan.*

Di antara dalilnya juga adalah, *hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no 160 dan Imam Muslim no 22* tentang ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu, ketika beliau mengajarkan tata cara wudhu Rasulullah ﷺ. Di akhir hadits tersebut ‘Utsman membawakan sabda Rasulullah ﷺ:

من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر الله له ما تقدم من ذنبه

_*“Barang siapa berwudhu seperti wudhu’ku ini kemudian ia bangkit melakukan shalat 2 rakaat* dengan hati yang khusyu’ (hatinya tidak berbisik tentang perkara-perkara duniawi yang tidak layak dalam shalat -pent), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”_

*Kedua hadits di atas dengan sangat tegas menyatakan bahwa shalat 2 rakaat setelah wudhu’ yang dilakukan oleh Bilal memiliki dasar yang kuat di dalam syari’at.*

*Kedua hadits tersebut sekaligus menyanggah anggapan* Ust. Abdul Somad yang mengatakan:

_“…tidak ada hadits menyebut Rasulullah pernah melakukan, mengucapkan atau mengajarkan shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu…”_

Alhasil, kita bisa mengambil kesimpulan *bahwa Bilal sama sekali tidak mengada-ada ibadah yang baru.*

_Jika ada yang berkata: “boleh jadi (ada ihtimal atau kemungkinan) Bilal melakukan ibadah tersebut sebelum beliau mengetahui kedua hadist ini”_

Kita pun bisa mengatakan:

*“Boleh jadi (ada ihtimal atau kemungkinan) sebaliknya; Bilal melakukan ibadah tersebut setelah beliau mengetahui kedua hadits ini”*

_Karena adanya ihtimal (kemungkinan) ini dan itu, maka sebagaimana yang dikatakan oleh Ust. Abdul Somad sendiri dalam bukunya di hal. 41:_

ما دخله الاحتمال سقط به الاستدلال

_“Jika dalil itu mengandung kemungkinan atau ketidakpastian maka tidak layak dijadikan sebagai dalil”_

_Maka berdasarkan kaidah yang dibawakan Ust. Abdul Somad sendiri, sungguh aneh rasanya beliau berdalil dengan kisah Bilal untuk sampai pada kesimpulan Bid’ah Hasanah yang diinginkannya, karena kisah Bilal—sekali lagi—mengandung ihtimal. *Lantas dari mana bisa disimpulkan bahwasanya Bilal melakukan ibadah shalat setelah wudhu tanpa mengetahui pendapat Rasulullah ﷺ dalam masalah ini…?* yang kemudian membawa Ust. Abdul Somad pada kesimpulan bahwa apa yang dilakukan Bilal adalah Bid’ah Hasanah…?? [Lihat al-Haqul Ablaj, hal. 128, Syaikh Dr. Abdul Aziz ar-Rays]_

*Bahkan ihtimal yang kedua jauh lebih memungkinkan dan lebih dekat pada kebenaran.* Bahwasanya *Bilal melakukan shalat sunnah wudhu tersebut atas dasar pengetahuan sebelumnya bahwa shalat tersebut memang telah disunnahkan oleh Rasulullah ﷺ.* Karena dengan demikian, kita telah ber-husnuz-zhaan kepada salah seorang Sahabat yang mulia (Bilal).

_Dengan mengambil ihtimal (kemungkinan) yang kedua, kita juga bisa mengkompromikan nash-nash umum yang keras melarang perbuatan mengada-ada dalam syariat dengan atsar perbuatan Sahabat yang mengesankan mereka beribadah atas dasar kreasi pribadi. Sebab jika tidak demikian, *kita justru telah su’uz-zhaan atau berprasangka buruk terhadap Sahabat dengan mengatakannya telah berbuat bid’ah sebelum ada taqriir dari Nabi, padahal para Sahabat dikenal sangat perhatian dalam upaya mereka menyesuaikan setiap amalan mereka dengan petunjuk Rasulullah ﷺ. *Mengatakan Bilal telah berbuat bid’ah dan mengada-ada (terkait shalat sunnah setelah wudhu) adalah bentuk sikap kurang adab* terhadap seorang Sahabat yang mulia lagi berilmu._

_Ketiga: Kalaupun kita menerima anggapan bahwa Bilal telah melakukan suatu ibadah shalat sebelum mengetahui dalil-dalil khusus tentang Shalat setelah wudhu, *maka tetap saja Bilal tidak bisa dikatakan telah membuat-buat perkara baru dalam agama. Karena Bilal mengamalkan apa yang beliau pahami dari firman Allah dan sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang berisi anjuran melakukan atau memperbanyak shalat-shalat sunnah secara mutlak*. Adapun shalat yang beliau lakukan setiap selesai berwudhu, *karena memang seseorang jika ingin melakukan shalat maka dia harus berwudhu terlebih dahulu. Dan sebaik-baik amalan saat dalam keadaan suci—di antaranya—adalah shalat*. Maka tidak heran jika Bilal segera shalat setelah suci dengan berwudhu._

Di antara dalil umum yang jadi pegangan Bilal dalam hal ini adalah, firman Allah:

واستعينوا بالصبر والصلاة

_*“Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan shalat.”*_

*Ini adalah dalil umum yang menunjukan bahwasanya melakukan shalat sunnah secara mutlak—di waktu yang dibolehkan melakukan shalat Sunnah—sangatlah dianjurkan dan tentu saja sebelum melakukannya harus berwudhu.*

_Diriwayatkan dari hadits Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, sebagaimana dalam Shahih Muslim (no. 489); bahwa suatu ketika Rabi’ah meminta kepada Rasulullah ﷺ shalallahu’alaihi wa sallam agar di akhirat nanti bisa dekat dengan beliau di surga maka Rasul berkata kepada beliau:_

فأعني على نفسك بكثرة السجود

*“Wahai Rabi’ah, kalau begitu perbanyaklah sujud”*

*Imam an-Nawawi* menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 4 hal. 206):

_*“Yang dimaksud memperbanyak sujud di sini adalah sujud dalam shalat”*_

*Ini adalah dalil umum yang memotivasi kita untuk banyak melakukan shalat Sunnah yang sifatnya mutlak (tidak terikat).*

_*Lagi pula jika kita merujuk penjelasan ulama, shalat Sunnah setelah wudhu adalah jenis ibadah yang bersifat “ghairu maqshuudah bi-dzaatihaa”, dalam artian; dia bukanlah jenis shalat yang bersifat khusus semisal shalat fardhu.* Dia mirip dengan shalat Tahiyyatul Masjid, yang penting shalat dulu ketika masuk masjid sebelum duduk, shalat apa saja, sudah terhitung Tahiyyatul Masjid. Demikian pula, jika ada orang melakukan shalat Sunnah Qabliyah Zhuhur langsung setelah ia berwudhu, maka ia sudah terhitung melakukan shalat Sunnah wudhu. Karena yang terpenting adalah; dia shalat setelah wudhu, shalat apa saja. Demikian pendapat Syaikh Nawawi al-Bantani (wafat: 1898-M) dalam kitabnya Nihaayatu az-Zain (hal. 104), beliau menuliskan:_

ومنه صلاة سنة الوضوء عقب الفراغ منه وقبل طول الفصل والإعراض ، وتحصل بما تحصل به تحية المسجد ؛ فلو أتى بصلاة غيرها عقب الوضوء من فرض أو نفل ففيها ما تقدم في تحية المسجد من جهة حصول الثواب وسقوط الطلب

_Ini juga yang menjadi pendapat ulama al-Lajnah ad-Da-imah (7/248-249). Termasuk juga pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin (Liqo’ al-Bab al-Maftuh: 25/20)._

*Berarti shalat Sunnah mutlak yang dilakukan setelah wudhu, termasuk dalam cakupan makna hadits Bilal di atas. Sehingga semua dalil-dalil yang berisi anjuran memperbanyak shalat secara mutlak, berlaku juga bagi orang yang shalat setelah wudhu*. Dengan demikian, tak lagi bisa diterima alasan yang menyebut Bilal telah melakukan ibadah tanpa dalil, atau sebelum ia mengetahui dalilnya.

_*Keempat: Ibadah yang dilakukan oleh Bilal ini resmi menjadi sunnah setelah mendapatkan taqriir atau pengakuan dari Nabi.* Kita menyebutnya sebagai *sunnah taqririyyah, yaitu sunnah yang telah mendapat legitimasi dan pengakuan dari Nabi*. Jadi ibadah tersebut menjadi bagian dari syari’at karena taqriir Nabi, bukan semata-mata karena dipelopori oleh Sahabat atau ulama tertentu._

_*Adapun di zaman ini, Sunnah Taqriiriyyah sudah tak ada lagi sepeninggal Rasulullah ﷺ. Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk mengada-ada atau menambah-nambah perkara baru dalam hal ibadah.*_

_*Jika dikatakan; bukankah perbuatan Bilal tersebut sebelum mendapat taqrir dari Nabi adalah bid’ah..??,* sebagaimana yang disimpulkan oleh Ust. Abdul Somad pada hal. 43._

_Jawabannya; berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita bisa menilai itu adalah anggapan yang sangat jauh dari kebenaran. Namun anggaplah kita sepakat dengan Ust. Abdul Somad bahwa tindakan Bilal adalah bid’ah sebelum mendapat taqriir Nabi. Maka kita katakan; *bahwasanya para Sahabat punya kekhususan dalam masalah ini. Karena mereka hidup di zaman turunnya wahyu. Tidak bisa disamakan apa yang dilakukan oleh para sahabat semasa hidup Nabi dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang pada zaman ini.*_

*Jika ada amalan Sahabat yang tidak diridhai secara syar’i di era turunnya wahyu dan pensyariatan, niscaya Allah akan menurunkan teguran melalui Nabi-Nya, dan menjelaskan jalan ibadah yang sesuai dengan keridhaan-Nya*. Namun yang demikian ini tidak berlaku bagi mereka yang hidup tidak di zaman turunnya wahyu. *Ibnu al-Qayyim* mengatakan:

أن علم الرب تعالى بما يفعلون في زمن شرع الشرائع ونزول الوحي وإقراره لهم عليه دليل على عفوه عنه

_*“Ilmu Rabb ta’ala atas apa-apa yang diamalkan (oleh para Sahabat) di zaman pensyariatan, atau di era turunnya wahyu, lantas Allah men-taqriir-nya (atau mendiamkannya), adalah bukti bahwa Allah tidak mempermasalahkan amalan mereka tersebut.”* [al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Mustakhrajah min I’lamil Muwaqqi’in: 292, Abdurrahman al-Jazairi, Taqdim: Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid]_

*Adapun pada zaman ini, Rasul sudah tiada, wahyu sudah terputus dan agama sudah disempurnakan. Wahyu mana yang akan menjamin keabsahan setiap ide atau kreasi orang dalam ibadah..?* Sementara itu *amalan yang dilakukan oleh Bilal adalah amalan yang dilakukan pada waktu Rasul masih hidup, dan belum diturunkan ayat tentang kesempurnaan Islam:*

اليوم أكملت لكم دينكم

_*“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Kalian”*_

Sehingga tidak bisa disamakan kasus yang terjadi di zaman para sahabat dengan apa yang terjadi di zaman ini.

_*Ibadah yang diada-adakan pada zaman ini tidak ada jaminan legitimasi dari Allah dan Rasulullah ﷺ. Karena agama ini sudah disempurnakan, Rasulullah ﷺ sudah wafat dan wahyu telah terputus.* Di sisi yang lain, Rasulullah ﷺ telah menutup peluang bagi orang-orang belakangan untuk berkreasi dalam ibadah, melalui sabdanya:_

كل بدعة ضلالة

*“Semua bid’ah itu sesat”*

*Para sahabat seperti Ibnu ‘Umar,* menafsirkan sabda Rasulullah ini dengan ucapannya;

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

_*“Setiap kebidahan adalah kesesatan sekalipun manusia memandangnya hasanah (baik)”*_

_*Kelima; jangankan di zaman ini, di era Nabi masih hidup saja, tidak semua ide Sahabat dalam hal ibadah di-taqriir oleh Nabi. Ada yang bahkan diingkari dengan keras.*_

*Seperti kisah 3 orang yang ingin beribadah lebih—yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5063)*–. Di antara mereka *ada yang ingin membujang selamanya agar fokus beribadah, ada yang ingin berpuasa sepanjang tahun (dahr), dan ada yang hendak shalat malam tanpa tidur.* Rasulullah ﷺ *mengingkari ide mereka tersebut, sekalipun niat mereka baik.*

_Juga kisah al-Baraa’ bin ‘Aazib *yang mengganti lafaz “wabi-nabiyyika…” menjadi “wabi-rasuulika…” dalam doa sebelum tidur yang diajarkan Nabi pada beliau.* Tindakan al-Baraa’ ini *langsung mendapat teguran dari Nabi* (lihat Shahih al-Bukhari no. 6311)._

*Nah, jika Sahabat saja ada yang diingkari oleh Nabi ide atau tindakan mereka dalam hal ibadah, maka apalagi ide baru orang-orang zaman sekarang…??*

***

_*Kesimpulannya; perbuatan Bilal tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk menyokong adanya bid’ah mahmudah/hasanah dalam ranah ritual ibadah sehingga seseorang bisa bebas melakukan atau membuat ibadah-ibadah baru (seperti ritual perayaan Maulid).*_

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimred alhujjah.com, pengasuh kanal dakwah Telegram: t.me/kristaliman)

http://www.alhujjah.com/2017/12/04/tanggapan-atas-tulisan-ust-h-abdul-somad-lc-ma-bag-1/

_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll*_

_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_

HUKUM MENGOLOK-OLOK AGAMA ALLOH

MENGOLOK-OLOK AGAMA ALLOH DAN HUKUMANNYA

24 Nov 2017RedaksiAqidah

MENGOLOK-OLOK AGAMA DAN HUKUMANNYA

“Orang-orang yang mengolok-olok (istihza’) terhadap agama yang mulia ini, baik itu sengaja atau hanya bersenda gurau.”

Remeh, tapi mematikan! Seperti setetes tuba yang tercampur dalam genangan air susu, merusak semuanya. Tak ada beda, sengaja ataupun tidak keduanya tercampurkan.

Dan ada “setetes” yang sangat berbahaya bagi eksistensi keimanan seseorang: “Istihza”, yaitu mengolok-olok sesuatu dari agama yang mulia ini. Baik dengan sengaja maupun hanya sekedar bersenda gurau. Baik dengan lisan, maupun dengan gerakan anggota badan, seperti kedipan, sunggingan bibir dan lain sebagainya.

Istihza’ (mengolok) terhadap Alloh subhanahu w, al-Qur’an dan Rosul-Nya hari ini dipandang sebagai hal remeh dan tidak berdampak apa-apa. Justru dari peremehan inilah, ia menjelma menjadi sebuah monster kekafiran yang kadang tersembunyi dalam selimut yang berlebel iman.

Atau mungkin, ada sebagian orang yang kebangetan pinternya, mencoba mengartikan lain, “bukan mengolok-olok, ini adalah mengkritisi, memberikan wacana agar kaum Muslimin mendapat pencerahan, sehingga tidak selalu berwatak tradisionalis dan jumud.”

Nah… yang seperti ini pun tidak jauh beda dengan pinang yang di belah dua, hanya saja mereka itu memang kebelinger jadinya memiliki istilah-istilah baru seperti itu. Sayangnya lagi, istilah-istilah baru itu mereka dapatkan dari kamus-kamus yang bersemayam di negeri-negeri kaum kafirin.

Begitulah… di negeri ini, di zaman modern ini, begitu banyak orang-orang yang dengan mudahnya mencela agama yang mulia ini. Sayangnya, orang-orang yang tidak mampu menjaga lisannya tersebut adalah orang-orang yang notabene mendapat kedudukan di mata kaum Muslimin, sehingga mereka pun mendapat sematan “Cendikiawan Muslim”.

Padahal, seharusnya mereka maupun kita benar-benar takut terhadap adzab-Nya, dan senantiasa mengingat apa yang pernah terjadi pada masa Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam.

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam dan para Shahabatnya pernah dicaci oleh beberapa orang dalam suatu perjalanan menuju Tabuk. Mereka yang mencaci beralasan; “Kami hanya bergurau dan bermain-main.”

Alloh subhanahu wata’ala dan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam tidak menerima permintaan maaf mereka. Bahkan beliau membacakan kepada mereka hukum Alloh subhnahau wata’a’la yang turun dari atas langit ketujuh.

“Katakanlah, apakah terhadap Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman.”
(QS. at-Taubah: 65)

Apakah kita masih bisa merasakan ketenangan dan tidur lelap, bila saja dalam satu kali lisan kita tergelincir dalam perkara ini? Sungguh tiada guna gelar doktoral atau pun yang lainnya bila tidak memahami perkara ini.

Orang-orang yang berbuat istihza’ hanyalah orang-orang yang bodoh. Bagaimana mungkin mereka akan menghina agama yang tidak ada cacat di dalamnya, kecuali hal itu didasari oleh hawa nafsunya.

Dan memang demikian, mereka itu benar-benar bodoh. Ada seorang yang begitu bodohnya mengolok agama yang mulia ini dengan menolak syari’atnya. Alasannya, karena syari’at itu merupakan bentuk Arabisasi.

Hukuman Para Pelakunya
Kaum Muslimin di setiap zaman telah bersepakat bahwa orang yang mencela Alloh dan Rosul-Nya atau agama-Nya, maka wajib untuk dibunuh. Jika yang mencela adalah seorang Muslim, maka ketika itu ia telah murtad dan wajib dibunuh karena kemurtadannya tersebut. Jika yang mencela adalah seorang kafir dzimmi, maka batallah ikatan perjanjian untuk melindunginya dan wajib untuk dibunuh.

Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan para Shohabat) bahwa orang yang mencela Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam wajib dibunuh.

Berkata al-Khatthabi: Aku tidak mengetahui adanya perselisihan tentang (orang yang mencela) wajib untuk dibunuh jika dia (si pencela) seorang Muslim..”

Berkata Ibnu Qudamah: “Barang siapa mencela Alloh maka ia telah kafir, sama saja apakah dengan bergurau atau sungguh-sungguh. Demikian pula (sama hukumnya dengan) orang yang mengejek Alloh atau ayat-ayat-Nya atau Rosul-Nya atau kitab-kitab-Nya…”

Berkata Ibnu Hazm: “Adapun mencela Alloh maka tidak ada seorang Muslim pun di atas muka bumi yang menyelisihi bahwasanya hal itu adalah kekufuran (secara dzatnya)”, hanya saja Jahmiyyah dan Asy’ariyyah mengatakan: `Hal ini (pencelaan terhadap Alloh subhnahau wata’ala) merupakan petunjuk adanya kekufuran, tetapi hal itu bukanlah kekufuran.’

Ibnu Hazm rohimahulloh telah membantah pendapat kedua kelompok tersebut, beliau lalu berkata: “Suatu kebenaran yang meyakinkan bahwa barangsiapa yang mengejek sesuatu dari ayat-ayat Alloh subhanahu wata’ala atau mengejek seorang Rosul dari para Rosul Alloh maka ia menjadi kafir dan murtad karena hal itu.”

Ia juga berkata: “Benarlah apa yang telah kami sebutkan bahwasanya siapa saja yang mencela atau mengejek Alloh subhnahu wata’ala; atau seorang malaikat dari para malaikat atau seorang nabi dari para nabi atau sebuah ayat dari ayat-ayat Alloh, maka dengan hal itu ia menjadi kafir yang murtad dan berlakulah hukum murtad padanya.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Tai-miyah: “Jika ia (si pencela) seorang Muslim, maka telah terjadi ijma’ bahwa ia wajib dibunuh, karena ia telah menjadi murtad disebabkan (celaan tersebut), dan ia lebih buruk daripada orang kafir (yang bukan murtad). Karena seorang kafir (yang bukan murtad) mengagungkan Robb tetapi meyakini agama batil sebagai kebenaran, namun tidak (melakukan) pengolok-olokan terhadap Alloh dan pencelaan terhadap-Nya.”

Berbeda dengan orang Islam yang mencela Alloh subhanahu wata’ala, ia telah mengetahui Islam sebagai agama yang benar sehingga memeluk agama Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Utsaimin , beliau berkata: “Bagaimana seorang bisa menghina dan mengejek sesuatu perkara yang diimani. Seorang yang beriman terhadap suatu perkara, maka dia harus mengagungkan perkara tersebut dan di dalam hatinya ada pengagungan yang layak dengan perkara tersebut. Kekufuran ada dua, yaitu kufur i’rodh (berpaling) dan kufur mu’arodhoh (penentangan).

Orang yang mengejek (beristihza’) maka ia kafir dengan kekafiran mu’aradhah. Dan ia lebih besar (kejelekkannya) daripada orang yang hanya sujud kepada patung (tanpa melakukan penentangannya). Ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Perkataan seringkali mendatangkan bencana dan kebinasaan bagi orangnya dalam keadaan ia tidak menyadarinya.

Kadang seorang mengucapkan kalimat yang mendatangkan murka dari Alloh subhanahu wata’ala sedangkan ia tidak menganggapnya sebagai suatu yang penting, namun kalimat tersebut menjerumuskannya ke dalam api neraka.”

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

Dan apabila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-Nya, agar Rosul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.”
(QS. an-Nur: 48)

Allohul Musta’an

Sejarah Kelam Perayaan Maulid

Banyak yang belum tahu, inilah Sejarah Kelam Maulid Nabi

Sejarah Kelam Islam Siapa Yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi Asal Maulid Nabi Siapa Yang Pertama Kali Mengadakan Maulid Nabi Sejarah Kelam Maulid

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)

Fatimiyyun yang Sebenarnya

Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka.

Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”

Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah.

inilah Sejarah Kelam Maulid Nabi

Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)

Apakah Fathimiyyun Memiliki Nasab sampai Fatimah?

Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.

Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36).

Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86).

Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81).

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”

Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118)

Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158)

‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.

Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143)

Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya.

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

▪Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab.

▪Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H.

▪Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

▪Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com